SELAMAT DATANG

DI BLOG PRO PERUBAHAN

Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit . Welcome In This Blog . Thanks For Your Visit .

Terima kasih, anda telah bergabung di Blog pro perubahan. Saya berharap dengan bergabungnya anda di bolg ini dapat memberikan warna baru dan pemikiran baru dalam kemajuan bangsa dan negara. Apabila anda berkenan, Saya harapkan berikan komentar atas tulisan, artikel, polling, dan opini yang Saya postingkan. Semua permintaan ini, harapan Saya hanya satu yaitu mendapatkan kritikan, masukan untuk kemajuan isi blog pro perubahan kedepan. Terimakasih.

14/03/17

Pilkada DKI


PREDIKSI KEMENANGAN AHOK PADA PUTARAN KE II


Isu Pilkada di DKI menjadi lebih populer dibandingkan Pilkada Pilkada di daerah. Dimana Pilkada DKI memberikan satu nuansa politis yang sangat kental diantara para kandidat-kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI. Pilkada di DKI lebih menarik lagi setelah terjadi putaran kedua pemilihan calon gubernur dan calon wakil gubernur di DKI. Dimana menariknya Pilkada DKI dibandingkan dengan Pilkada di daerah-daerah lain. Apabila ditanyakan kepada masyarakat maka beragam jawaban yang akan didapat. Yang jelas, pasti mereka memberikan jawaban bahwa Pilkada DKI merupakan Pilkada yang meriah karena lokasi daerahnya ada di ibukota.

Oleh karena itu akan banyak kepentingan-kepentingan baik secara politis maupun bisnis. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Pilkada DKI merupakan pertarungan antara minoritas dengan mayoritas terutama dari segi penganut agama yang berbeda. Orang boleh berpendapat yang berbeda dari masing-masing sisi pemikirannya sendiri-sendiri, namun yang jelas bahwa Pilkada DKI adalah Pilkada yang tidak jauh berbeda dengan di daerah-daerah yang ada di Indonesia, yaitu dimana aturannya sama dan sanksinyapun sama.
Namun, yang membedakan adalah Pilkada di DKI menjadikan sorotan karena adanya gesekan kepentingan politik dan golongan yang mempunyai kepentingan yang begitu hebat dan juga akan menentukan bagaimana kepemimpinan Indonesia ke depan dalam pemilihan presiden yang akan datang tahun 2019. Disamping itu, orang juga melihat bahwa Pilkada di DKI merupakan satu momentum dalam estafet kepemimpinan yang bisa memberikan warna baru dan situasi yang fundamental di dalam mendapatkan asumsi pemikiran bahwa perubahan Indonesia ke depan dapat dilakukan di dalam gerakan-gerakan Pilkada DKI. Oleh karena itu, sebagian orang melihat bahwa Pilkada di DKI merupakan barometer politik Indonesia ke depan.
Seperti kita ketahui, bahwa Pilkada DKI dari tiga calon yang maju di dalam pilkada pada putaran putaran pertama, maka puturan kedua ini yang akan bertarung adalah pasangan Ahok dan djarot serta pasangan Anies dan sandiago. Bagaimana prediksi masing-masing kandidat ini? Siapakah kemungkinan yang mempunyai peluang yang sangat besar di dalam memenangkan pertarungan Pilkada di DKI? Ada beberapa asumsi yang bisa diambil untuk melihat prediksi kemenangan masing-masing calon antara lain. Pertama, pasangan ahok-djarot mempunyai kans yang sangat besar di dalam memenangkan pertarungan Pilkada DKI. Hal ini terlihat dari beberapa isu-isu yang beredar yang menurut sebagian orang sangat merugikan pasangan ahok-djarot. namun sebenarnya hal itu sangat menguntungkan. Sebagai contoh, isu yang saat ini lagi membuming yaitu adanya penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Dipandang dari sisi strategi politis sebenarnya itu ini sangat seksi dan dapat memberikan keuntungan yang sangat positif terhadap pasangan ahok-djarot. Dimana isu penistaan agama memberikan pemahaman kepada masyarakat, yang tadinya memberikan posisi yang negatif terhadap pasangan ahok-djarot. Akan tetapi, ketika persidangan bergulir masyarakat berbalik di kalangan bawah maupun atas. Hampir memahami bahwa isu yang beredar dan tuduhan terhadap penistaan agama oleh Ahok hanyalah merupakan sebuah komuditas politik untuk bagaimana Ahok tidak menjadi gubernur DKI.
Dalam kontek ini, masyarakat akhirnya berpikir bahwa politik di DKI memberikan satu nuansa tidak adil di dalam berpolitik. Sangat berbeda, apabila sidang penistaan agama di sidangkan setelah Pilkada. Kemungkinan isu yang menyangkut masalah kelemahan pasangan ahok-djarot tidak akan muncul ke permukaan. Namun, ketika isu penistaan agama sudah masuk di dalam ranah pengadilan. Maka yang terjadi adalah ini bisa membersihkan nama Ahok di dalam penistaan agama. Mengingat di dalam persidangan tersebut Ahok di dalam strateginya tidak perlu menjelaskan secara panjang lebar tentang bagaimana sebenarnya posisi dia dalam penistaan agama itu. Maka para pakar dan juga para ahli pidana sudah menjelaskan bahwa penistaan agama adalah merupakan sebuah perbuatan yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang dalam menghina agama. Akan tetapi, apabila seseorang tidak ada sedikitpun maksud untuk menghina agama maka tuduhan penistaan agama tidak dapat dibenarkan.
Dalam kondisi ini sangat jelas, apabila kita melihat bahwa tuduhan terhadap Ahok mengenai penistaan agama adalah merupakan penzoliman terhadap Ahok. Dari pengalaman pemilihan presiden sewaktu SBY berhadapan dengan Megawati. Di mana saat itu Megawati banyak menzolimi SBY. Hal inilah masyarakat akhirnya banyak membela dan memilih SBY sebagai presiden. Mengacu dari pengalaman ini, maka tidak menutup kemungkinan Ahok akan mendapatkan simpati dari masyarakat DKI bahwa sebenarnya Ahok adalah orang yang terdzolimi.
Kedua, pasangan Ahok dan djarot pada saat ini masih diuntungkan dengan posisi patahana yang telah berhasil membangun Jakarta. Terbukti pembangunan Jakarta terlihat dengan bukti yang nyata. Perumahan yang illegal dan sangat semraut dapat dibenahi dengan sukses dan membuahkan keindahan kota Jakarta.
Dari beberapa kondisi diatas, maka prediksi kemenangan pasangan Ahok-Djarot pada putaran kedua ini sudah didepan mata. Isu agama yang dimainkan oleh lawan politik Ahok tidak memberikan nilai yang sangat signifikan terhadap perlawanan mengganjal Ahok menjadi Gubernur DKI. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar