PREDIKSI KEMENANGAN AHOK PADA PUTARAN KE II
Isu
Pilkada di DKI menjadi lebih populer dibandingkan Pilkada Pilkada di daerah. Dimana
Pilkada DKI memberikan satu nuansa politis yang sangat kental diantara para kandidat-kandidat
calon gubernur dan wakil gubernur DKI. Pilkada di DKI lebih menarik lagi
setelah terjadi putaran kedua pemilihan calon gubernur dan calon wakil gubernur
di DKI. Dimana menariknya Pilkada DKI dibandingkan dengan Pilkada di
daerah-daerah lain. Apabila ditanyakan kepada masyarakat maka beragam jawaban
yang akan didapat. Yang jelas, pasti mereka memberikan jawaban bahwa Pilkada
DKI merupakan Pilkada yang meriah karena lokasi daerahnya ada di ibukota.
Oleh
karena itu akan banyak kepentingan-kepentingan baik secara politis maupun
bisnis. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Pilkada DKI merupakan pertarungan
antara minoritas dengan mayoritas terutama dari segi penganut agama yang
berbeda. Orang boleh berpendapat yang berbeda dari masing-masing sisi
pemikirannya sendiri-sendiri, namun yang jelas bahwa Pilkada DKI adalah Pilkada
yang tidak jauh berbeda dengan di daerah-daerah yang ada di Indonesia, yaitu
dimana aturannya sama dan sanksinyapun sama.
Namun,
yang membedakan adalah Pilkada di DKI menjadikan sorotan karena adanya gesekan
kepentingan politik dan golongan yang mempunyai kepentingan yang begitu hebat
dan juga akan menentukan bagaimana kepemimpinan Indonesia ke depan dalam pemilihan
presiden yang akan datang tahun 2019. Disamping itu, orang juga melihat bahwa
Pilkada di DKI merupakan satu momentum dalam estafet kepemimpinan yang bisa
memberikan warna baru dan situasi yang fundamental di dalam mendapatkan asumsi
pemikiran bahwa perubahan Indonesia ke depan dapat dilakukan di dalam gerakan-gerakan
Pilkada DKI. Oleh karena itu, sebagian orang melihat bahwa Pilkada di DKI
merupakan barometer politik Indonesia ke depan.
Seperti
kita ketahui, bahwa Pilkada DKI dari tiga calon yang maju di dalam pilkada pada
putaran putaran pertama, maka puturan kedua ini yang akan bertarung adalah
pasangan Ahok dan djarot serta pasangan Anies dan sandiago. Bagaimana prediksi
masing-masing kandidat ini? Siapakah kemungkinan yang mempunyai peluang yang
sangat besar di dalam memenangkan pertarungan Pilkada di DKI? Ada beberapa
asumsi yang bisa diambil untuk melihat prediksi kemenangan masing-masing calon
antara lain. Pertama, pasangan ahok-djarot
mempunyai kans yang sangat besar di dalam memenangkan pertarungan Pilkada DKI. Hal
ini terlihat dari beberapa isu-isu yang beredar yang menurut sebagian orang
sangat merugikan pasangan ahok-djarot. namun sebenarnya hal itu sangat
menguntungkan. Sebagai contoh, isu yang saat ini lagi membuming yaitu adanya
penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Dipandang dari sisi strategi politis
sebenarnya itu ini sangat seksi dan dapat memberikan keuntungan yang sangat
positif terhadap pasangan ahok-djarot. Dimana isu penistaan agama memberikan
pemahaman kepada masyarakat, yang tadinya memberikan posisi yang negatif
terhadap pasangan ahok-djarot. Akan tetapi, ketika persidangan bergulir
masyarakat berbalik di kalangan bawah maupun atas. Hampir memahami bahwa isu
yang beredar dan tuduhan terhadap penistaan agama oleh Ahok hanyalah merupakan sebuah
komuditas politik untuk bagaimana Ahok tidak menjadi gubernur DKI.
Dalam
kontek ini, masyarakat akhirnya berpikir bahwa politik di DKI memberikan satu
nuansa tidak adil di dalam berpolitik. Sangat berbeda, apabila sidang penistaan
agama di sidangkan setelah Pilkada. Kemungkinan isu yang menyangkut masalah
kelemahan pasangan ahok-djarot tidak akan muncul ke permukaan. Namun, ketika
isu penistaan agama sudah masuk di dalam ranah pengadilan. Maka yang terjadi
adalah ini bisa membersihkan nama Ahok di dalam penistaan agama. Mengingat di
dalam persidangan tersebut Ahok di dalam strateginya tidak perlu menjelaskan
secara panjang lebar tentang bagaimana sebenarnya posisi dia dalam penistaan
agama itu. Maka para pakar dan juga para ahli pidana sudah menjelaskan bahwa
penistaan agama adalah merupakan sebuah perbuatan yang secara sengaja dilakukan
oleh seseorang dalam menghina agama. Akan tetapi, apabila seseorang tidak ada
sedikitpun maksud untuk menghina agama maka tuduhan penistaan agama tidak dapat
dibenarkan.
Dalam
kondisi ini sangat jelas, apabila kita melihat bahwa tuduhan terhadap Ahok
mengenai penistaan agama adalah merupakan penzoliman terhadap Ahok. Dari
pengalaman pemilihan presiden sewaktu SBY berhadapan dengan Megawati. Di mana
saat itu Megawati banyak menzolimi SBY. Hal inilah masyarakat akhirnya banyak
membela dan memilih SBY sebagai presiden. Mengacu dari pengalaman ini, maka
tidak menutup kemungkinan Ahok akan mendapatkan simpati dari masyarakat DKI
bahwa sebenarnya Ahok adalah orang yang terdzolimi.
Kedua, pasangan Ahok dan
djarot pada saat ini masih diuntungkan dengan posisi patahana yang telah
berhasil membangun Jakarta. Terbukti pembangunan Jakarta terlihat dengan bukti
yang nyata. Perumahan yang illegal dan sangat semraut dapat dibenahi dengan
sukses dan membuahkan keindahan kota Jakarta.
Dari
beberapa kondisi diatas, maka prediksi kemenangan pasangan Ahok-Djarot pada
putaran kedua ini sudah didepan mata. Isu agama yang dimainkan oleh lawan
politik Ahok tidak memberikan nilai yang sangat signifikan terhadap perlawanan
mengganjal Ahok menjadi Gubernur DKI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar